
Oleh: Sofyan S. Harahap
Partai Republik menang telak atas Partai Demokrat dengan menyapu kursi Kongres dan memenangi 10 kursi gubernur di beberapa negara bagian. Hasil pemilu ini melambangkan suara rakyat AS yang kecewa atas kebijakan-kebijakan yang diambil Demokrat selama Presiden Barack Obama berkuasa.
Memang Senat masih dipegang Demokrat, dengan 52 kursi, sementara Republik 47 kursi, tetapi di Kongres Demokrat hanya mendapat 185 kursi, sedangkan Republik 239 kursi.
Editorial salah satu koran terkemuka Amerika Serikat menyebutkan bahwa hasil pemilu itu memberikan pesan keras kepada Obama: “Kami tidak suka bagaimana Obama melaksanakan kepemimpinannya dan akhirnya kami memberikan kursi itu kembali ke Partai Republik”.
Apa yang menyebabkan para pemilih ini kecewa, tentu banyak jawabannya, tetapi setelah kekalahan telak itu Presiden Barack Hussein Obama memberikan reaksi demikian:
“Saya harus mengambil langsung tanggung jawab dari kenyataan pahit ini. Hal ini terjadi karena kita belum memberikan kemajuan besar sebagaimana kita ingin wujudkan. Jika saat ini kita memiliki angka pengangguran 5% bukan seperti saat ini 9,6% [saat Obama menjadi Presiden 7,6%] kemungkingan para pemilih akan lebih meyakini kebijakan-kebijakan yang kita pilih.”
Ini kata Obama, lalu bagaimana pendapat pengamat atas kekalahan ini Pengamat ekonomi Tomothy Egan memberikanulasan yang menarik tentang fenomena kekalahan Demokrat ini dikaitkan dengan kepemimpinan dan figur Obama, dalam tulisan berjudul: “Bagaimana Obama menyelamatkan kapitalisme Amerika tetapi konsekuensinya dia kalah telak dalam pemilu sela.”
Tulisan ini tidak akan membahas mengapa Demokrat kalah, tetapi bagaimana kepemimpinan Presiden Obama yang berani melawan arus opini publik, dan tidak mengumbar pencitraan, demi menyelamatkan ekonomi AS dalam jangka panjang dengan risiko kehilangan kursi Demokrat di Kongres. Dampaknya akan semakin sulit bagi dia menjalankan berbagai kebijakannya.
Selamatkan kapitalisme
Mari kita lihat beberapa kebijakan ekonomi Presiden Obama yang menyelamatkan kapitalisme Amerika Serikat.
Pertama, Obama telah menyelamatkan pasar modal dan investasi di pasar modal setelah ditinggalkan terpuruk (paling buruk dalam sejarah AS) oleh pendahulunya, Presiden George W. Bush.
Menurut Egan, jika kita investasi pada saat Obama dilantik sebesar US$100.000, pada saat pemilu Selasa lalu, investor akan mendapatkan kenaikan kekayaan sebesar 77% atau US$177.000 di Nasdaq, dan 48% atau US$148.000 jika diinvestasikan di perusahaan 500’s Standard and Poors.
Kedua, Obama telah menyelamatkan sistem perbankan AS melalui dana talangan sebesar US$700 miliar. Ini berbeda dengan para koleganya di Demokrat yang menganjurkan untuk melakukan nasionalisasi bank tetapi ternyata Obama memilih kebijakan yang tidak populis dengan melakukan bailout.
Hasilnya, sistem perbankan AS saat ini mulai stabil, ditandai dengan naiknya laba beberapa lembaga keuangan besar pada kuartal III ini. Bayangkan apa yang akan terjadi pada kapitalisme AS seandainya Obama tidak menyelamatkan industri perbankan ini.
Ketiga, sejak dalam kampanye Presiden Obama juga sudah menyampaikan keinginannya untuk menyelamatkan industri otomotif AS yang hampir bangkrut. Obama menyelamatkan industri otomotif dengan dana US$86 miliar, yang juga banyak menuai kritik.
Padahal jika industri otomotif tidak diselamatkan akan menimbulkan tambahan pengangguran sebanyak lebih dari 1 juta pekerja otomotif. Sekarang GM dan Chrysler sudah membukukan laba, bahkan telah mulai lagi ekspansi.
Keempat, tingkat bunga tetap dipertahankan rendah dan ini bagus bagi perusahaan sehingga sebagian sudah bisa membukukan labanya pada tahun ini.
Kelima, UU tentang pelayanan kesehatan yang mendapat tantangan besar dari Partai Republik pada hakikatnya membuat biaya pemeliharaan kesehatan semakin murah untuk golongan berpendapatan rendah.
Keenam, reformasi sistem keuangan yang menelan biaya US$814 miliar, yang merupakan paket stimulus yang dikucurkan Obama banyak ditentang mayoritas publik, tetapi kenyataannya pasar modal AS saat ini sudah terselamatkan dengan kebijakan itu. Bahkan ada penambahan 3 juta kesempatan kerja.
Perlindungan kepada konsumen dari spekulan yang rakus dan permainan curang lainnya, dapat direm oleh regulasi pemerintah Obama. Tapi dampaknya, Obama dituding antipasar modal, antiekonomi pasar, dan antiorang kaya karena dia ingin membatasi gaji dan pendapatan CEO.
Kebijakan Obama itu bahkan dinilai sebagai kebijakan ekonomi sosialis yang merupakan rival kapitalis. Namun, Obama bergeming. Kepemimpinannya teruji dan terpuji dalam kenyataan walaupun media dan persepsi publik berpendapat lain.
Menurut beberapa pengamat, Obama mengalami apa yang disebut sebagai “diminished fortunes”. Banyak sekali kebijakan yang sangat baik untuk masa depan Amerika tetapi banyak juga orang tidak tahu, sebagaimana dikeluhkan Obama.
Kualitas pemimpin seperti yang diperankan Obama inilah yang dibutuhkan masyarakat di Indonesia, yakni pemimpin yang bertindak tegas, sigap, cepat, dan tangkas. Obama mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih luas dan masa depan bangsa dalam jangka panjang, bukan kepentingan citranya, partainya atau koalisinya. Kita tidak butuh pemimpin yang tugasnya hanya membuat orang senang sesaat, seperti grup Srimulat.
Kiranya kunjungan Presiden Obama ke Indonesia besok, setelah batal beberapa kali, menjadi momen penting bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemerintahnya untuk melakukan introspeksi diri. Kepemimpinan Obama dapat menjadi contoh, dalam hal bagaimana dia menghadapi isu-isu secara melawan arus dan berani mengambil kebijakan yang tidak populis tetapi memberikan manfaat kepada rakyat banyak.
Guru besar FE Universitas Trisakti, Jakarta
Telah dimuat di harian Bisnis Indonesia Senin, 08/11/2010
















