
Sofyan S Harahap
FE Universitas Trisakti
Dalam majalah Forbes terbitan terakhir yang memuat daftar orang kuat di dunia Presiden Barack Hussein Obama menempati posisi kedua setelah Presiden Hu Jianto dari China di posisi orang terkuat pertama di dunia. Kendatipun ini hanya persepsi pembaca tetapi memang posisi ekonomi kedua negara USA dan China, diatas kertas China menempati posisi kuat. Dalam berbagai prediksi dalam tempo 10 tahun kedepan memang China akan menjadi kekuatan ekonomi dan poloitik kedua setelah Amerika. Posisi surplus cadangan perdagangan China terbesar di dunia yaitu sekitar US$ 3 trillion sedangkan Amerika memiliki defisit necara perdagangan dan bahkan mengalamin krisis defisit anggaran sebesar US$ 1,4 trillion, terbesar dalam sejarah.
Presiden Obama, disamping beberapa kemajuan yang dicapainya dalam pemerintahannya selama 2 tahun terakhir dengan mewariskan ekonomi yang porak poranda dari Presiden George Bush (Republik) Partai Demokrat dari mana Presiden Obama berasal mengalami kekalahan telak dalam pemilu sela Selasa lalu.
Partai Republik menyapu kursi lebih dari 60 seat House of Representatif (Kongres) dan mengambiil alih kursi Gubernur dari Demokrat sebanyak 10 Gubernur di beberapa negara bagian. Representatif Demokrat hanya mendapat 185 seats sedangkan Republik mendapat 239 seats. Memang Senat masih dipegang mayoritas oleh Demokrat, kursi dimiliki sebanyak 52 sedangkan Republik hanya 47. Hasil pemilu ini merupakan salah satu isi hati dan suara rakyat Amerika yang kecewa, tidak puas atau minimal menolak kebijakan kebijakan yang diambil Demokrat selama President Barack Obama berkuasa.
Dalam situasi itu pula Presiden Obama mengunjungi Indonesia yang juga berada dalam minggu sedih dengan adanya musibah beruntun mulai dari Wasior, Papua, Tsunami Mentawai, Sumatera Barat dan Meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah ketiganya sudah memakan korban jiwa lebih dari 700 orang. Kunjungan Obama ke Asia yang memakan waktu 10 hari ini dimulai ke India, Indonesia, Korea Selatan dan Jepang. Disela kunjungan itu beliau juga menghadiri pertemuan KTT G 20 di Seoul dan Pertemuan KTT APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) di Yokohama, Jepang.
Kedatangan Presiden Barack H Obama ke Indonesia yang sudah beberapa kali dibatalkan merupakan moment penting bagi Presiden SBY dan Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan berbagai upaya mengambil hati sang Presiden Adidaya ini untuk bisa memberikan perhatian dalam berbagai sektor untuk membantu pembangunan masa depan bangsa demik kesejahteraan rakyat Indonesia. Sebagaimana diketahui betapun terpuruknya ekonomi Amerika namun karena kekuatan politik, ekonomi, kekayaan perusahaan, kekayaan intelektual dan teknologi yang masih dikuasainya maka tidak bisa tidak kita harus mengakui kehebatan negara Adidaya ini. Peluang apa yang bisa di gelitik dari kedatangan Obama ini?
Pertama: Presiden SBY harus memelihara dan memufuk bila perlu menghidupkan kembali ingatan dan memory Presiden Obama akan kehidupanya semasa kecilnya di Menteng, Indonesia. Apapun bentuknya Pemerintah harus membuat suatu permanent memory ini agar ikatan emosional itu tidak akan pernah hilang. Bagi kita ini aset bukan biaya. Penempatan patung di Taman Menteng waktu itu sudh bagus tetapi Pemda DKI terlalu penakut menrespons suara suara picik yang menentangnya.
Kedua: Tidak bisa disangkal bahwa kekecewaan Islam kepada Amerika sejak runtuhnya World Tradre Center di New York yang dinilai hanya sebagai kamuflase Pemerintah Amerika untuk bisa menghilangkan kekuatan Islam di Irak dan Afghanistan dan akhirnya nanti di Iran. Situasi Islamiphobia yang semakin meningkat di Amerika juga menjadi keprihatinan Ummat Islam. Presiden Obama dikenal sebagai orang yang ingin mengobati luka ummat Islami ini yang telah dimulai Presiden Bush. SBY bisa menjadi intermediary dalam menjembatani ketegangan Islam Barat ini melalui Presiden Obama. Diharapkan dengan diplomasi ala Menteng kebencian dunia Islam bahkan dunia Amerika Latin kepada Amerika bisa disembuhkan oleh sosok SBY.
Ketiga: Kualitas dan budaya dan kemajuan Pendidikan, Teknologi, Inovasi, intellecual capital Amerikalah yang membuat negara itu menjadi adidaya bukan saja bidang ilmu dan teknology tetapi juga ekonomi, kekayaan, politik, keuangan dan ekonomi. Indonesia sudah lama menikmati kemajuan Amerika ini namun sampai saat ini tidak ada kerjasama yang signifikan untuk mengangkat kualitas dan budaya ilmu dan teknology di Tanah Air yang sebetulnya sangat bisa di laksanakan melaqlui kerjasama dengan Amerika.
Keempat: Hubungan Ekonomi antara Indonesia dengan Amerika memang tidak besar, ekspor kita ke Amerika bukan yang terbesar sehingga hubungan ekonomi ini bisa ditingkatkan melaluii diplomasi kedatangan Obama ini dengan menarik investasi terutama di sektor industri berteknologi tinggi seperti IT, Perminyakan dan energy Bio, Riset, Kesehatan, biotechnology, dan teknologi dirgantara dan persenjataan.
Kelima: Barack Obama telah menyelamatkan Pasar modal dan investasi di Pasar modal setelah ditinggalkan terpuruk (paling terpuruk dalam sejarah Amerika) oleh pendahulunya President Bush. Menurut seorang pengamat ekonomi Amerika Tomothy Egan jika kita investasi pada saat Obama dilantik sebesar US$ 100.000 maka pada saat pemilu selasa investor akan mendapatkan kenaikan kekayaan sebesar 77% atau US$ 177.000,- di Nasdaq dan 48% atau US$ 148.000.- jika di investasikan di perusahaan 500’s Standard and Poors. Ini menunjukkan kesuksesan manajemen pasar modal dan sistem keuangan Amerika yang didesain oleh Obama dan stafnya terutama Paul Volker mantan Gubernur Federal Reserve Bank. SBY bisa mempelajari dari Obama untuk diterapkan di Indonesia senbelum krisis pasar modal terjadi sebagaimana yang bdialami Amerika tahun 2008. Amerika saat ini dikenal dengan sistem keuangan yang lebih menjamin stabilitas dengan keluarnya Dodd dan Frank Wallstreet Act dan Customer Protection Act. UU ini juga menyentuh perbankan Amerika yang dimintanya untuk menaikkan modalnya dan menurunkan kompensasi gaji eksekutif.
Kedatangan Obama bisa menjadi anugerah atau bahkan tidak menghasilkan apa apa bagi Indonesia. Hal ini sangat tergantung pada kelihaian bermain diplomat kita dan khususnya Presiden SBY. Selama ini diplomasi Indonesia adalah diplomasi sok hebat, sombong, ogah meminta, dan menjaga citra seolah adalah negara tanpa masalah. Tanpa mengurangi kedaulatan dan harga diri bangsa saya yakin banyak sekali gaya diplomasi yang bisa di mainkan oleh Presiden SBY dalam menerima kunjungan bersejarah Obama kali ini. Demi kepentingan bangsa maka harga diri ayang mahal itu dapat diturunkan untuk mendapatkan rahmat yang sebesarnya bagi bangsa dari sang Adidaya ini.
Penulis adalah Guru Besar FE Universitas Trisakti
Investor Daily 9 November 2010
















